Membolos ternyata tidak selalu sia-sia, Readers. Walaupun melewatkan pelajaran Biologi dan Fisika, tapi aku cukup puas bisa gaining info tentang misteri tol cipularang dari sebuah majalah lama di ruang tunggu dokter. So well, gini katanya:
Pasti readers semuanya tahu kan tentang jalur tengkorak alias jalan maut bin jalan keramat di tol Cipularang, tepatnya dari kilometer 90 sampai kilometer 100 yang rawan sekali terjadi kecelakaan? Yup, sehubungan dengan terjadinya cukup banyak kecelakaan yang merenggut korban jiwa disana, readers pasti tahu kan kalau ada sejuta mitos yang dihubungkan dengan jalur maut tersebut. Aku sendiri pernah denger mitos tentang kerajaan setan yang katanya terletak di lokasi kilometer 90 sampai 100 tol Cipularang. Ternyata, selidik punya selidik, kata majalah lama itu, ternyata di area kilometer 90 sampai 100 tol Cipularang memang ada sebuah petilasan yang dikeramatkan.
Petilasan itu adalah sebuah petilasan 'mantan' tempat bertapa seorang sakti yang aku lupa siapa namanya. Males browsing juga sih, soalnya aku penakut. Silahkan browsing sendiri aja kalau ingin tahu siapa nama orang saktinya. Nah, di petilasan itu, terdapat sebuah prasasti yang dijeruji dan ditutupi kain putih. Konon katanya, prasasti itu sesungguhnya adalah sebuah senjata dengan kepala macan yang hanya bisa dilihat oleh orang dengan 'ilmu tinggi', alias 'orang pintar' atau 'orang yang punya indera keenam'. Untuk menuju petilasan, terdapat lorong bawah tanah yang terdapat di bawah kilometer 90 - 100. Petilasan tersebut letaknya di gunung hejo, sebuah gunung yang dulunya, sebelum pembangunan tol Cipularang, adalah hutan rimba milik Perhutani yang selalu rimbun, meskipun di musim kemarau. Kadang-kadang, malah bisa menyemburkan air ke udara, entah gimana caranya. Menurut kepala desa setempat, dulunya saat pembangunan tol Cipularang, gunung hejo ternyata menghalangi jalur sehingga harus dibelah. Saat proses pembelahan, buldoser yang berusaha membelah gunung malah terguling. Setelah diadakan upacara syukuran potong kambing hitam, barulah buldoser berhasil membelah gunung secara perlahan-lahan.
Tapi, itu kan cuma mitosnya, nggak tahu bener nggak tahu salah.
Seorang pengamat yang aku lupa siapa namanya mengatakan, secara ilmiah, penyebab kecelakaan di tol Cipularang adalah kondisi alam serta kelalaian pengemudi. Sepanjang tol Cipularang, kalau diperhatikan, dari Bandung ke Jakarta, jalan terus menurun, sementara terdapat banyak belokan. Jika pengemudi tidak waspada, hal ini dapat menimbulkan kecelakaan. Dalam kondisi turunan, tanpa digas pun, mobil sudah dapat melaju dengan sendirinya. Gas yang terlalu kencang dapat membuat mobil hilang kendali saat berbelok sehingga terjadi kecelakaan. Kondisi jalan di tol Cipularang yang tidak rata, entah karena kondisi tanah yang labil maupun karena setiap hari dilewati oleh truk-truk besar bermuatan berat, juga menjadi salah satu faktor yang mempertinggi angka kecelakaan di tol Cipularang. Di beberapa titik, tol Cipularang membelah lembah, sehingga sering terjadi angin kencang yang cukup kuat untuk 'menggeser' mobil yang sedang melaju, apalagi dengan kecepatan terlalu kencang.
Hal paling penting yang perlu diwaspadai dari tol Cipularang adalah karena tol Cipularang didesain untuk kecepatan 80 km/jam. Sebelum sebuah tol dibangun, pertama-tama yang harus ditentukan adalah rentang kecepatan yang diizinkan dalam tol tersebut. Misalnya, Cipularang, yang didesain untuk rentang kecepatan 80 km/jam - 100 km/jam - kalo nggak salah - , semua aspek mulai dari bentuk dan ketajaman tikungan, derajat kemiringan jalan, dll akan disesuaikan dengan rentang tersebut. Sehingga, apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, pengemudi bisa berhenti atau menghindar tepat sebelum terjadi kecelakaan. Hal inilah yang tidak dipahami oleh para pengguna tol di Indonesia. Mereka masih berpedoman pada motto 'Jalan besar dan rata maka bisa mengemudi dengan keepatan sekencang-kencangnya'.
Selain itu, kondisi mesin, umur mobil, dan keterampilan pengemudi juga menjadi hal yang patut diperhitungkan. Kebiasaan memeriksa mobil sebelum berkendara dapat menjadi kunci penting bagi keselamatan pengendara. Berkendaralah dalam batas yang diizinkan, tidak lebih dan tidak kurang. Serta perhatikanlah faktor cuaca. Apabila hujan, jalankan kendaraan dengan wajar. Karena saat hujan, dapat saja terjadi saat ban mobil tidak bergesekan dengan aspal karena adanya air saat mobil dipacu dengan terlalu kencang. Hal ini mengakibatkan mobil 'terbang' sehingga rawan tergelincir dan terbalik. Kemudikan mobil dengan kecepatan yang sesuai, terutama saat hujan, agar ban mobil tetap bergesekan dengan aspal. Kenali rambu-rambu yang ada dan berdoalah sebelum berkendara :)

0 komentar:
Posting Komentar